Thursday, 21 July 2016

Points to learn from writing a scientific report


I have to admit that scientific writing is not an east task. I have to made 2 reports during my master study, one for thesis and another one for internship. I thought, OK its not going to be hard as long as I follow the general rule: introduction, MnM, result and sicussion. However, recently I got such experience telling me how hard it actually is. I have been always rejected for my first draft. The saddest thing is that I used to put a hige effort to come up with the complete 1st draft. Can you imagine how I feel my self so dumb to spent too much time for being rejected? I step back, try to gather positive things as much as possible, and concluded that it is afterall the best time to learn. Learning from mistakes and remember them. Do remember this whenever in the future I come across with another writing. Here are my mistakes which I promise to never ever repeat the same.
1. I am so much confident when I start writing. Thinking that I KNOW what to write. Hey, am I sure how the scientific report should be like? Am I sure I got thecore points of my research? I will remember to ask my seld these questions when I start writing. 
2. Because I was so much confident, I did not even ask my supervisor's vision and just write everything. 
I would be better to ask first what is the systematic format she expected. Perhaps give he a short brainstorming ideas containing only the keypoints, ask her opinion, and then start from there.
By doing this I will save so much time rather than spending writing things that are pointless.
3. I knew writing really takes time, but I did not bear it in my mind.
Once I realize that my report is gonna be long, its gonna be hard, I might have problems with my english, etc. I shall write them down. Start writing as earliest as I can.
4. I was too shy to ask. Writing is easier when I get the idea. When no ide coming, it is extremely hard to start writing. How to get it? ASK!!! Do not ever think that my supervisor will see me as an incapable student, knowing nothing about scientific writing or the project. Better to lower my self in the beginning rather than unconsciously making mistake. 
5. I spent so much time for the Introduction and discussion parts. Well, it is a known problem in writing. However there is a way to escape from it. It is no other than ASKING. I should contact my supervisor when I am lost. I should ask her what exactly I have to write in both parts.
6. Discussion is meant to criticize my own work. Keep in mind, it is going to criticize what I have been done. How my method perform? Did I choose the right method? Will it be different or better if using another method? How is your result? Does it make sense? Is it relevant with the current insight? Do I have a reference to compare with my result? What is the good results I obtain? What is its strenght? How will I recommend my result? What is its weakness? What can be improved? Whats my recommendation for future related studies?
7. Its not a mistake but just a reminder, I shall keep my spirits positive during writing. Worship God, never miss prayer time, take some time to exercise, eat healthily, and do good deeds: smiling and small charity are good too. In this way, I can be sure I am at my best spirit to start writing anytime.

Fighting! Its never late to learn.

Wednesday, 13 April 2016

Dilema minum susu

"Saya takut minum susu, karena kabarnya konsumsi jangka panjang dapat memicu kanker."

Pernyataan di atas bukan kali pertama ini saya dengar. Beberapa tahun lalu, ketika masih kuliah S1 ilmu pangan di IPB, ide tentang bahaya mengonsumsi susu muncul dalam topik tentang xenobiotik. Singkatnya, mengonsumsi susu di usia dewasa akan berdampak negatif karena memicu kerja enzim lactase secara berlebihan. Ketika metabolisme tubuh yang dalam hal ini berkaitan dengan enzim 'dipaksa' bekerja, resiko munculnya stress dan sel kanker meningkat. Apakah benar susu se-seram itu? Bagaimana mekanisme susu menyebabkan sel-sel di dalam tubuh menyimpang? Adakah dasar ilmiah yang bisa menjelaskan itu?


Untuk kasus orang yang memiliki gejala lactose intolerance, konsumsi susu perlu dibatasi atau malah dihindari. Sedangkan untuk orang normal, apakah perlu ikut mengeliminasi susu demi kesehatan jangka panjang? Saya berpendapat "tidak". Mengapa? Karena di satu sisi, manfaat susu untuk kesehatan sudah disepakati. Bahkan dalam sejarah Islam, Nabi SAW saja minum susu (susu kambing). Lalu mengapa kita harus menjauhi susu? Di sisi lain, studi dan riset yang berkembang sampai saat ini belum bisa menyimpulkan bahaya susu bagi kesehatan.  Apakah letak masalahnya ada pada asal susu dan proses yang terjadi selama pengolahan?




Ajaran Islam tentang susu
Firman Allah dalam Al Qurán menyebutkan keistimewaan susu dari binatang ternak.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ

“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya” (QS. An Nahl : 66)

Di samping mencontohkan mimum susu sapi, Rasulullah SAW juga menganjurkan lewat sabdanya.

فَعَلَيْكُمْ بِأَلْبَانِ الْبَقَرِ فَإِنَّهَا تَرُمُّ مِنْ كُلِّ الشَّجَرِ

“Hendaklah kalian minum susu sapi karena ia makan dari setiap pohon” (HR. Ahmad, Hakim dan Ibnu Hibban; shahih)

Memang ada riset yang mengabarkan korelasi positif antara konsumsi susu dengan prevalensi kanker kolon di suatu populasi. Namun, ada pula riset yang membuktikan hal sebaliknya. Sejauh ini opini ilmiah yang paling bisa diterima adalah bahwa susu bukanlah penyebab utama suatu penyakit, melainkan ada peran (confounder) unsur makanan yang lain. Diet manusia mencakup banyak sekali jenis makanan yang ketika masuk ke tubuh akan berinteraksi (secara kompleks) dengan sistem metabolisme tubuh. Timbulnya suatu penyakit kronis menjadi sulit untuk dijelaskan dengan hanya satu jenis makanan. Jika untuk mempercepat kesembuhan dari satu penyakit, dokter menyarankan untuk berhenti minum susu, bukan berarti susu-lah kambing hitamnya kan?

Belakangan ini, perbincangan tentang susu segar organik (organic raw milk) dan susu olahan (milk in retail) cukup populer. Ada yang berpendapat bahwa susu segar dari sapi perah yang diternak secara organik lebih sehat dari susu kemas yang dijual di supermarket. Alasannya adalah susu organik lebih alami dan sesuatu yang berasal dari alam dipersepsikan aman untuk kesehatan. Sedangkan susu kemasan dikhawatirkan masih mengandung sisa pestisida, obat-obatan dan cemaran kimia lain yang berbahaya. Pandangan ini perlu diluruskan. Susu organik juga menawarkan resiko bahaya, yaitu kontaminasi mikroba dan cemaran kimia dari lingkungan, misalnya dioksin. Sementara bahaya-bahaya tersebut umumnya diminimalisir dengan teknologi pengolahan.

Mengapa susu sapi? Karena sapi lah binatang ternak yang produktivitas susunya paling tinggi. Untuk mencukupi kebutuhan susu populasi manusia yang jumlahnya besar, tentu akan lebih efisien dengan susu sapi daripada susu kambing/domba. Ada sejumlah produsen yang menawarkan susu kambing, namun harganya relatif lebih mahal dari susu sapi dan rasanya kurang bisa diterima. 

Jika tetap keukeuh untuk stop minum susu sapi, maka Anda harus siap dengan konsekuensinya. Anda harus mencari makanan alternatif pengganti susu untuk mencukupi kebutuhan protein, kalsium, dan mineral penting lainnya. Beberapa contoh makanan tinggi kalsium adalah kedelai (tahu tempe), brokoli, dan kacang-kacangan. Kandungan kalsium makanan tersebut masih lebih rendah dibanding susu, jadi perhatikan juga porsi yang harus dimakan.